Dalam rangka melestarikan budaya di Indonesia yang salah satunya adalah halal bihalal, pesantren alternatif Al-furqon mengadakan acara syawalan budaya yang bertempat di Musholla al-Furqon. Acara syawalan budaya kali ini mengambil tema “ Menjaga Budaya Lokal Sebagai Jatidiri Bangsa” dengan pembicara K. Tamam Syifa Akyas dari Petanahan dan di hadiri oleh warga RT01 RW 01 desa Kembaran Kebumen. Dalam acara syawalan Budaya ini juga ditampilkan kreatifitas dari para santri diantaranya pembacaan puisi oleh Desi dan tiga dua buah lagu yang dinyanyikan oleh Ocha, Sari, Desta, Asih dan Nisa dengan diiringi oleh adik Tika, Davi, Aisyah, Umi. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang tidak asing bagi anak-anak yaitu Desaku dan Pamanku Datang.
Dalam sambutannya Koordinator acara syawalan budaya ini Rimba Palangka menyatakan bahwa acara syawalan budaya ini diselenggarakan untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia yang semakin terkikis oleh perkembangan zaman. Dengan adanya syawalan budaya ini diharapkan tercipta kerukunan antar warga masyarakat. Sehingga pola hidup individulaistis yang mulai merambah kehidupan masyarakat desa bisa diminimalisir. Karena dengan adanya acara seperti ini, masyarakat bisa mengurangi kehidupan yang selalu termanjakan kegiatan domestik dirumah, sehingga ketika mereka bertemu dengan warga masyarakat yang lain dalam suatu acara mereka bisa saling berinteraksi dengan kehidupan sosial di lingkungannya.
Acara syawalan budaya kali ini juga sebagai langkah awal untuk mendekonstruksi budaya pengajian yang selalu monoton yaitu jamaah hanya datang dan mendengarkan. Hal ini dibuktikan dengan diadakan pengajian dan dialog dalam syawalan Budaya tersebut. Selain bisa mendengarkan mauidhoh Hasanah dari pembicara, jamaah yang hadir juga bisa ikut serta dalam dialog interaktif seputar isi ceramah yang disampaikan. Meskipun hanya sedikit dari jamaah yang aktif dalam dialog tersebut, namun paling tidak sudah mulai terlihat adanya perubahan dalam sebuah konsep acara pengajian selama ini. Pengajian tidak hanya datang dan mendengarkan isi ceramah, akan tetapi sudah sepantasnya jika para jamaah yang hadir ikut serta dalam dialog interaktif tersebut, sehingga budaya dialog atau musyawarah semakin berkembang dan tercipta dalam kehidupan masyarakat.
K.Tamam sebagai pembicara dalam mauidhohnya menyampaikan rasa bangganya dengan di ikutsertakannya kreatifitas anak-anak dalam acara syawalan budaya kali ini. Dengan diikutsertakannya sebuah kreatifitas maka akan semakin memacu keberanian mereka dalam berkreatifitas dan semakin menumbuhkembangkan imajinasi mereka. Selain hal itu, K. Tamam juga menyoroti seputar perkembangan budaya bagi anak-anak. Dikarenakan budaya dahulu dengan sekarang berbeda maka di perlukan sebuah pengawasan yang maksimal terhadap budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. . Menurutnya salah satu pengawasan tersebut adalah dengan menanamkan pendidikan agama sejak dini. Karena dalam agama diajarkan pendidikan moral sehingga diharapkan bisa lahir generasi-generasi yang tangguh dimasa yang akan datang.
KOMENTAR